Kamulah Segalanya - Namamu di Papan Pengumuman

 Gerbang Sekolah dan Papan Pengumuman

SMP Bakti Bangsa berdiri kokoh di tepi jalan protokol kota. Gedung berlantai dua dengan cat dominan warna hijau muda dan putih itu tampak sangat megah di mata seorang anak yang baru lulus SD seperti Tora. Gerbang besi hitamnya terbuka lebar, dijaga oleh beberapa anggota OSIS yang berdiri tegak memakai seragam putih-biru lengkap dengan jas almamater biru dongker dan papan nama akrilik.

Aroma tempat itu sangat khas: perpaduan antara cat gedung yang baru direnovasi, aroma tanah basah sisa hujan semalam, bau oli dari deretan motor guru di parkiran, serta wewangian parfum minyak kayu putih dari ratusan murid baru yang datang diantar orang tua mereka.

"Yang kelas 7 langsung berkumpul di lapangan tengah ya! Sepeda parkir di sebelah kiri kantin!" seru seorang pengurus OSIS bertubuh tinggi dengan pengeras suara genggam.

Tora memarkir sepedanya di bawah pohon peneduh di dekat dinding kantin, lalu menguncinya. Ia membetulkan letak tali ranselnya yang terasa lumayan berat—berisi buku catatan polos, tempat pensil, dan bekal minum.

Di tengah lapangan, massa anak-anak berseragam putih-biru terlihat saling sikut dan berdesakan. Mereka mengelilingi sebuah papan pengumuman tripleks besar yang dipasang di dekat ruang piket. Semua orang ingin tahu di kelas mana mereka diletakkan.

Tora melangkah mendekat. Ia menyusup dengan hati-hati di antara kerumunan anak-anak laki-laki yang sibuk membandingkan sepatu kets masing-masing dan anak-anak perempuan yang bergerombol sambil memegangi kuncir rambut mereka.

"Permisi... numpang lewat sebentar," bisik Tora pelan.

"Aduh, jangan dorong-dorong dong!" keluh seorang anak perempuan berambut pendek di depannya.

"Sori, sori, mau lihat nama sebentar," balas Tora merasa bersalah.

Setelah berhasil menyelusup ke barisan depan, mata Tora menyipit menatap lembaran kertas HVS ukuran A4 yang tertempel rapi di papan. Lembaran-lembaran itu dikelompokkan berdasarkan nama kelas dari 7-A sampai 7-F.

Jari telunjuk Tora mulai bergerak menelusuri deretan nama yang dicetak menggunakan huruf kapital tebal.

7-A... Ahmad, Alfi, Anisa... tidak ada.

7-B... Bayu, Citra, Deni... tidak ada juga.

Tora menggeser posisinya sedikit ke kanan, mengabaikan dorongan dari anak lain di sampingnya.

7-C...

1. RAFI AHMADI

2. RANGGA PRASETYA

3. RANI MAHARANI

4. TORA WIJAYA

Telunjuk Tora mendadak berhenti. Matanya terkunci pada urutan nomor tiga.

Rani Maharani.

Nama itu terasa seperti sengatan listrik kecil yang menjalar dari ujung jarinya langsung ke kepalanya. Jantung Tora berdetak jauh lebih cepat daripada saat ia mengayuh sepeda menanjak tadi.

"Rani...?" gumam Tora sangat pelan, hampir tak terdengar di tengah kebisingan lapangan.

Seketika itu juga, ingatan yang tersimpan rapi di dalam pikirannya selama enam tahun mendadak melompat keluar dengan sangat jelas.

TK Pembina. Sebuah taman kanak-kanak berpagar kuning dengan halaman rumput luas, perosotan cat merah yang sudah mengelupas, dan ayunan berdecit. Di sana, enam tahun lalu, ada seorang anak perempuan berpita kuning yang selalu mengenakan sepatu warna merah menyala.

Anak perempuan yang paling tidak mau kalah kalau sedang berebut mainan perosotan, anak perempuan yang pernah menangis sesenggukan setengah mati gara-gara es krim cokelatnya jatuh ke tanah berpasir, dan anak perempuan yang pernah bersumpah akan meminjamkan krayon warna merah kesayangannya pada hari berikutnya—tetapi janji itu tidak pernah terwujud karena keluarganya mendadak pindah rumah saat liburan kenaikan kelas menuju SD.

Sejak saat itu, Tora masuk ke SD Tunas Bangsa, dan ia tidak pernah mendengar kabar tentang Rani lagi. Enam tahun berlalu tanpa jejak.

Tapi... apakah ini Rani yang sama? batin Tora diliputi rasa ragu yang membuncah. Nama Rani Maharani kan pasaran banget. Bisa aja ini Rani yang lain.

"Woy, bro! Ngelamun aja lu di depan papan! Awas keinjek sandal gue!"

Sebuah tepukan lumayan keras mendarat di bahu kanan Tora. Tora terlonjak kaget dan menoleh. Di sampingnya berdiri seorang anak laki-laki bertubuh agak gempal dengan pipi tembam dan rambut ikal pendek. Anak itu tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang agak jarang.

"Eh, sori," kata Tora.

"Gue Bimo," kata anak itu sambil mengulurkan tangan yang agak basah oleh keringat. "Lu kelas apa?"

"Tora. Gue di 7-C," jawab Tora sambil menjabat tangan Bimo sekilas.

"Sama dong! Gue juga 7-C! Urutan nomor 12! Mantap, udah dapet temen sekelas nih!" seru Bimo antusias tanpa beban. "Yuk ke lapangan, bentar lagi mau bel apel pagi tuh. Katanya kalau terlambat disuruh berdiri di depan tiang bendera."

Tora menyempatkan diri melirik kertas daftar nama kelas 7-C itu sekali lagi, memastikan baris nomor tiga itu benar-benar ada, sebelum akhirnya pasrah ditarik oleh Bimo menuju tengah lapangan.

0 $type={blogger}:

Post a Comment

Kepada Pengunjung jangan lupa komentarnya

-Untuk Pengguna Blogger gunakan google accountnya
-Untuk Pengguna Wordpress gunakan pilihan wordpress
-Untuk Pengguna lainnya (domain berbayar atau yg punya facebook) silahkan pilih Name/URL, kemudian masukkan nama dan alamat web atau facebook (profil).

Komentar anda sangat berguna bagi saya, terima kasih.