Kamulah Segalanya - Namamu di Papan Pengumuman

Pagi yang Riuh dan Aroma Baju Baru

Kringgggg!

Suara dering jam weker mekanik berwarna merah pudar di atas meja belajar Tora bergetar hebat, beradu dengan permukaan kayu hingga menimbulkan bunyi gemeretak yang bising. Belum sempat dering ketiga usai, sebuah tangan terulur dari balik selimut bergambar karakter kartun lama, menepuk bagian atas jam itu dengan cekatan.

Tora menarik napas dalam-dalam. Mata bagian kirinya masih agak lengket, tetapi kesadarannya langsung melesat naik seratus persen dalam hitungan detik. Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah Senin pertama di bulan Juli—hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Bakti Bangsa.

Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan kakinya menyentuh lantai keramik yang dingin. Di sudut kamar, tergantung seragam baru yang sudah disetrika rapi oleh ibunya sejak semalam: kemeja putih berlengan pendek dengan logo OSIS SMP yang masih berkilau kaku di kantong kiri, serta celana pendek kain berwarna biru tua.

"Tora! Ayo mandi! Nanti kesiangan, hari pertama jangan sampai terlambat!" teriak Ibu dari arah dapur, disertai bunyi sutil beradu dengan wajan penggorengan.

"Iya, Bu! Ini udah bangun!" sahut Tora dengan suara agak serak khas bangun tidur.

Proses persiapan pagi itu berlangsung seperti simulasi perang kecil. Tora menghabiskan waktu lima menit hanya untuk memastikan kerah kemejanya terlipat sempurna. Saat memasukkan kemeja ke dalam celana dan mengencangkan sabuk hitam berlogo roda gigi, Tora berdiri di depan kaca rias kamar ibunya. Ia mengamati dirinya sendiri.

Tubuhnya memang agak tinggi untuk anak seusianya, tetapi bahunya masih tergolong kurus. Wajahnya khas anak baru lulus SD: pipi yang masih agak chubby, rambut lurus dipotong rapi gaya mandarin standar anak sekolah, dan tahi lalat kecil di sudut dagunya.

"Seragamnya kok kayak rada kedodoran ya, Bu?" tanya Tora saat turun ke meja makan, memutar tubuhnya di depan Ibu yang sedang menyiapkan piring berisi nasi goreng telur.

Ibu mengamati Tora dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan bangga khas orang tua. "Sengaja Ibu belikan ukuran L, Tora. Kamu itu cepat bongsor. Nanti kalau beli pas-pasan, kelas 8 udah ngatung bajunya. Udah, bagus kok itu. Kelihatan gagah."

Tora cuma bisa menghela napas pasrah. Khas orang tua. Baju seragam SMP anak kelas 7 memang hampir selalu punya takdir yang sama: kedombrongan di tahun pertama, pas di tahun kedua, dan agak kekecilan di tahun ketiga.

Setelah menghabiskan sarapan cepat dan menenggak segelas air putih, Tora pamit. Ia menuntun sepeda jengki warna perak milik ayahnya keluar dari pagar rumah. Udara pagi itu masih terasa sangat segar, membawa aroma embun dan bau asap pembakaran sampah dari pekarangan tetangga. Jantung Tora mulai berdegup agak kencang seiring kayuhan sepedanya yang makin mendekati gerbang SMP Bakti Bangsa.

0 $type={blogger}:

Post a Comment

Kepada Pengunjung jangan lupa komentarnya

-Untuk Pengguna Blogger gunakan google accountnya
-Untuk Pengguna Wordpress gunakan pilihan wordpress
-Untuk Pengguna lainnya (domain berbayar atau yg punya facebook) silahkan pilih Name/URL, kemudian masukkan nama dan alamat web atau facebook (profil).

Komentar anda sangat berguna bagi saya, terima kasih.